Sunday, May 15, 2016

Bumi Ini

Bumi ini apakah daku punyaiMengapa selalu sesak nafas kurasaSempit ruang dalam kamarku yang pengapTak bisa gapai, tangan kekar mengekang
Aku yang hina namun tetap manusiaSama makan nasi dan meminum airJangan terinjak kaum papa mengibaKutuliskan ini untuk mengingatkan
Bumi ini apakah daku punyaiMengapa terpisah cintaku dengannyaCinta yang ada dalam hatiku iniTak tergapai karna kasta yang berbeda

Bercintalah Denganku

Sesungguhnya aku katakan...Apa yang di fikirkuMengapa aku sangat risau...Bila kau masih dengannya
Takkah kau rasakan sesuatuYang lain dari biasa...Janggalnya senyumku terpaksaKarena tak inginkan ini...
Mengertilah aku resah..Mungkinkah aku cemburu...Tolonglah tenangkan akuPutuskan dia bercintalah denganku...

Bimbang

Pertama kali aku tergugahDalam setiap kata yang kau ucapBila malam telah datangTerkadang ingin ku tulis semua perasaan
"Kata orang rindu itu indahNamun bagiku ini menyiksaSejenak ku fikirkan untuk ku benci saja dirimuNamun sulit ku membenci"
Pejamkan mata bila kuingin bernafas legaDalam anganku aku berada disatuPersimpangan jalan yang sulit kupilih
Ku peluk semua indah hidupkuHikmah yang ku rasa sangat tulusAda dan tiada cinta bagiku tak mengapaNamun ada yang hilang separuhDiriku

Ratusan Purnama

ratusan purnama berlalutapi cinta tak pernah berlaluwalau kau usir aku di hidupmutapi cintaku tetap diam
ratusan purnama berlalusendirian aku tanpa cintatak pernah ada cinta yang lainhatiku terbuka hanya untukmu
duhai cinta enggan menawar rasagelombang marahmu terlalu berlebih
berderik-derik bunyi jantungkubila ku kenang wajahmubiar jauh jarak pandang kitanamun hati dan jiwaku selalu merasa di sisimu
duhai cinta sulit ku merabadiam dan dinginmuribuan hari ku mengingatmumembaca semua puisimumengering raga ini menantimuratusan purnama cinta kita kembali
duhai cinta enggan menawar rasagelombang marahmu terlalu berlebih
berderik-derik bunyi jantungkubila ku kenang wajahmubiar jauh jarak pandang kitanamun hati dan jiwaku selalu merasa di sisimu
duhai cinta sulit ku merabadiam dan dinginmuribuan hari ku mengingatmumembaca semua puisimumengering raga ini menantimuratusan purnama cinta kita kembali lagiratusan purnama cinta kita kembali

Suara Hati Seorang Kekasih

Hanya namamu di hatiku
Jiwa dan raga takkan berdusta
Namun terkadang
Cinta terusik benci sesaat

Seribu musim takkan bisa
Menghibur hati yang penuh marah
Entah mengapa
Berpisah saat mulai menjalin

Suara hati seorang kekasih
Bagai nyanyian surgawi
Takkan berdusta
Walau ketamakan merajai

Diri yang penuh emosi
Jauh di dasar hatiku
Tetap ku mau
Kau sebagai kasihku

PERTANYAAN TENTANG RINDU

Untuk menghibur diri, aku sering berjalan
sendiri menyusuri malam - dengan kedua 
tangan selalu di saku celana.

"Kubayangkan kau bertanya. 

Apakah kau takut Kehilangan
atau sedang mencari sesuatu..."

Kelak datang satu pagi membawa jawaban

kepadamu. ketika mandi, kau tiba-tiba menyadari
sungguh sudah lama jari-jariku tidak menyentuh 
tubuhmu

Karena kita adalah satu

"Hanya angin meniup saja, lalu hilang terbang tak ada...
Tapi kita tetap menari, menari cuma kita yang tahu....
Jiwa ini tandu, maka duduk saja..
Maka akan kita bawa semua
Karena kita adalah satu..."